Warna Standart Pantone

January 20, 2015 § Leave a comment

Download –> Warna Standart Pantone 2004

Warna Standart Pantone

Perkembangan dunia cetak, khususnya warna, pada dekade terakhir ini terbilang sangat pesat, antara lain dengan telah ditemukannya sistem Opaltone dan Pantone. Opaltone adalah sistem separasi warna dengan 7 process color (CMYK + RGB), sedangkan Pantone dengan Hexachrome-nya (CMYK + Green & Orange).

Kedua sistem warna ini sudah diaplikasikan pada beberapa printer terbaru yang sudah dilengkapi cartridges ink/toner CMYK + RGB (atau OG), sehingga perbedaan visual screen monitor (yang sudah terkalibarsi tentunya) dengan hasil printingnya tidak berbeda jauh.

Pada cetak komersial – prosesnya lebih panjang di mana monitor tidak boleh menjadi referensi- yang digunakan sebagai referensi adalah color guide (Pantone, HKS dsb) dan color value yang digunakan adalah nilai CMYK / RGB /L*a*b / LCH / Hue. Setiap tinta CMYK memiliki perbedaan color index sehingga memiliki hue yang berbeda. Jadi untuk mendapatkan warna yang sama nilainya, tinta harus dibakukan hue-nya.

Overtrap dari tinta-tinta CMYK akan menghasilkan tinta khusus yang gamutnya terbatas. Apabila ditambahkan tinta-tinta RGB maka gamut warna akan menjadi lebih luas, sehingga warna pastel & fluorescent yang mirip aslinya bisa diperoleh.

Dunia cetak di Indonesia, mau tak mau harus diakui, sebagian besar menutup mata terhadap teknologi ini. Idealnya penerapan teknologi ini mutlak diperlukan karena kebutuhan pelanggan semakin meningkat dan semakin bervariasi. Sebagai contoh, dahulu pada umumnya logo perusahaan hanya dicetak 2D kemudian 3D dengan special color. Sekarang banyak logo yang dicetak sebagai hasil perpaduan CMYK + Red & Blue (6 process color), bukan lagi 2 opaque special color seperti yang terdapat pada logo Pepsi, Red & Blue.

Penerapan teknologi color sebaiknya segera dilakukan. Jika tidak, operator cetak, baik yang masih menggunakan mesin konvensional maupun mesin terbaru, dapat dipastikan akan mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar akan produk cetak dengan warna-warna fluorescent atau warna-warna khusus, karena kesulitan dalam menentukan ketepatan warna.

Pada praktiknya, budaya NGADUK CAT masih banyak dijumpai walaupun sistem PANTONE CHIP dimaksud sudah diterapkan. Pertanyaan yang timbul kemudian, apakah betul seorang operator harus terlebih dahulu mengaduk-aduk cat untuk menghasilkan 1 warna Pantone yang sudah paten? Padahal sudah terdapat referensi bahwa sebuah Pantone Chip = 1 warna.

Di sisi lain, ketidakmampuan atau ketidakmauan menerapkan teknologi canggih ini dengan alasan mahal dan sulit alias tidak mau repot, mengakibatkan terkekangnya kreativitas yang semestinya dikembangkan seluas mungkin.

Tidak mengherankan jika sebagian operator cetak yang mengerti tentang “gamut”, “wavelength” warna, opaltone, warna subtractive, lebih memilih melakukan “adjustment manual dikombinasikan pengamatan mata” untuk mendapatkan warna yang diinginkan.

Sebagaimana diketahui bersama, munculnya sistem warna seperti Pantone, Hexachrome, Opaltone, dan Eder, begitu juga dengan Fluorescent, Phthalo Green, Orange, Warm Red, Rhodamine Red, Purple, Violet Metallic, Non Metal Metallic, disebabkan color gamut CMYK sangat terbatas. Tujuannya adalah untuk memperluas color gamut dan reproduksi warna.

Warna tinta dibuat dari pigment, sehingga digolongkan subtractive color. Oleh karena itu, faktor-faktor diluar tinta akan berpengaruh pada hasil cetakan. Faktor-faktor itu antara lain: kertas, print density, dot gain,trapping, dan ink water balance untuk cetak offset.

Perlu diingat bahwa pada dasarnya warna terbentuk karena adanya cahaya. Dalam hal ini, RGB dan pigment hanya bereaksi pada panjang gelombang spektrum RGB dengan cara menyerap, meneruskan dan memantulkan masing-masing sebagian gelombang spektrum tersebut sehingga mata kita menangkapnya sebagai warna.

Mengingat warna adalah persepsi, dimana setiap orang bisa memiliki persepsi berbeda, maka perlu dibuat standard-standard warna untuk mengurangi perbedaan persepsi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang sama dan seimbang dari pihak-pihak yang terkait dengan proses pembuatan produk cetak, mulai dari desainer dengan konsep design-nya, pabrik mesin dengan mesin cetak produksinya, pabrik tinta dengan produk tintanya, pabrik kertas dengan produk kertasnya, dan percetakan yang berfungsi sebagai pihak pengganda.

Standard warna yang dimaksud adalah Pantone. Standard warna itu dibuat untuk memudahkan semua pihak dalam berkomunikasi dengan warna. Hampir semua pabrik tinta memiliki lisensi Pantone, misalnya Cemani Toka, perusahaan tinta tertua yang telah 40 tahun berperan serta mewarnai industri percetakan Indonesia.

Untuk industri percetakan, penerapan teknologi warna dapat dimanfaatkan sebagai sarana berkompetisi dalam berbisnis. Semakin tinggi kemampuan cetak dan teknologi warna yang dimiliki dan diterapkan suatu perusahaan percetakan, maka akan semakin banyak kemungkinan proyek, baik dari segi jumlah maupun harga, yang bisa diraih.

Pengadaan dan penerapan pantone adalah hal cerdas yang sudah saatnya dilakukan setiap pengusaha percetakan. Di samping memudahkan komunikasi warna agar sesuai dengan yang diinginkan oleh pelanggan, juga dapat menghilangkan komplain dan klaim atas hasil warna cetak yang tidak sesuai permintaan atau target desain.

Mempelajari pengetahuan mengenai standar baku cetak merupakan suatu keharusan untuk tetap eksis di industri percetakan mengingat begitu cepat perkembangan teknologi berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan berinvestasi teknologi cetak terbaru dan relevan merupakan keputusan strategis yang harus diambil pengusaha percetakan yang ingin berhasil dalam jangka panjang dan memiliki posisi tawar tinggi di mata pelanggan. Jika tidak, bersiap-siaplah menjadi percetakan yang hanya akan mendapatkan proyek dengan posisi tawar rendah.

Standar cetak kadang menjadi kontroversi bagi sebagian pelaku industri cetak, karena tidak dilihat secara menyeluruh dari aspek industri cetak. Namun yang pasti standard cetak saat ini sudah menjadi tren industri cetak dan kebutuhan bagi para pelaku usaha jasa cetak, terlebih barang cetak sudah menjadi suatu komoditi yang diproduksi dalam jumlah besar dan dimultiplikasi secara konsisten.

Adabeberapa keuntungan pembuatan dan penerapan standard dalam industri cetak. Pertama, standar cetak membuat kualitas cetak menjadi hal yang lumrah karena semua orang atau pihak dapat membuat atau mengkopinya dengan gampang. Kedua, standar cetak menghilangkan …

Advertisements

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Warna Standart Pantone at design 3d c1p1.

meta

%d bloggers like this: